Apa Tazkiyatun Nafs?

Namun at-tazkiyah tidak hanya memiliki makna penyucian. At-tazkiyah juga memiliki makna an-numuww, yaitu tumbuh. Maksudnya, tazkiyatun nafs itu juga berarti menumbuhkan jiwa kita agar bisa tumbuh sehat dengan memiliki sifat-sifat yang baik/terpuji.

Dari tinjauan bahasa diatas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal. Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela (disebut pula takhalliy – pakai kha’), seperti kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya. Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik/terpuji (disebut pula tahalliy – pakai ha’), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.

Mengapa tazkiyatun nafs itu penting?

Setidak-tidaknya ada tiga alasan mengapa tazkiyatun nafs itu penting. Alasan pertama, karena tazkiyatun nafs merupakan salah satu diantara tugas Rasulullah saw diutus kepada umatnya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Jumu’ah: 2: “Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Senada dengan itu, Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-Baqarah: 151: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu), Kami telah mengutus kepadamu rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Dari kedua ayat diatas, kita bisa mengetahui bahwa tugas Rasulullah saw ada tiga. Pertama, tilawatul aayaat: membacakan ayat-ayat Allah (Al-Qur’an). Kedua, tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa. Dan ketiga, ta’limul kitaab wal hikmah: mengajarkan kitabullah dan hikmah.

Jelaslah bahwa salah satu diantara tiga tugas Rasulullah saw adalah tazkiyatun nafs “menyucikan jiwa”. Tazkiyatun nafs itu sendiri identik dengan penyempurnaan akhlaq, yang dalam hal ini Rasulullah saw bersabda tentang misi beliau diutus: “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia).”

Alasan kedua pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena tazkiyatun nafs merupakan sebab keberuntungan (al-falah). Dan ini ditegaskan oleh Allah SWT setelah bersumpah 11 kali secara berturut-turut, yang tidaklah Allah bersumpah sebanyak ini secara berturut-turut kecuali hanya di satu tempat, yaitu dalam QS Asy-Syams: 1-10:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Kemudian alasan ketiga pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena perumpamaan tazkiyatun nafs adalah seperti membersihkan dan mengisi gelas. Jika gelas kita kotor, meskipun diisi dengan air yang bening, airnya akan berubah menjadi kotor. Dan meskipun diisi dengan minuman yang lezat, tidak akan ada yang mau minum karena kotor. Tetapi jika gelasnya bersih, diisi dengan air yang bening akan tetap bening. Bahkan bisa diisi dengan minuman apa saja yang baik-baik: teh, sirup, jus, dan sebagainya.

Demikian pula dengan jiwa kita. Jika jiwa kita bersih, siap menampung kebaikan-kebaikan. Tetapi jika jiwa kita kotor, tidak siap menampung kebaikan-kebaikan sebagaimana gelas kotor yang tidak siap disi dengan minuman yang baik dan lezat.

Melaksanakan Taubat Nasuha dan Shalat Taubat agar diterima oleh ALLOH

Taubatan Nashuha

1. Mengakui kesalahannya
2. Menunaikan / Membayar kafarohnya
3. Mereasa menyesal dan berkomitmen tidak akan mengulangi lagi kesalahannya tersebut.
4. Mohon pengampunan Kepada Alloh dengan mengucapkan Istighfar.

Semoga setelah melakukan beberapa syarat dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, Insyaalloh semua dosa kita akan diampuni. Tidak ada kata terlambat untuk mengakui kesalahan dan bertobat kepada Alloh. Semua manusia pernah melakukan kesslahan, namun sepandai-pandainya umat Alloh, yaitu orang yang bisa mengkoreksi dirinya sendiri, dan mengerti kesalahan apa  yang telah mereka pebuat.

SHALAT TAUBAT

Diantara rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap ummat ini adalah adanya pintu taubat, dan pintu ini senantiasa terbuka, kecuali jika ruh sudah sampai pada tenggorokan, atau matahari terbit dari sebelah barat. Selain itu Allah juga menjadikan shalat sebagai salah satu dari sebaik-baiknya ibadah yang dengannya seorang hamba pendosa bertawassul kepada Rabbnya, berharap taubatnya diterima. Shalat tersebut dinamakan shalat “Taubat”_

*1. Dalil Disyariatkannya shalat taubat*
════════════════════
*Para ulama telah ijma* (sepakat) bahwa shalat taubat itu *disyariatkan*. Diantara Dalilnya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallahu anhu, ia berkata: “aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda”:

*مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَه*

_*’Tidaklah seseorang berbuat dosa, lalu ia bersuci dengan baik, kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat, lalu mohon ampun kepada Allah, kecuali Allah pasti mengampuni dosanya’ , kemudian beliau Shallallahu alaihi wasallam membaca ayat berikut:*_

*(وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ)*

_*Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui*_ [Surat Ali Imran: 135] (HR. Abu Dawud, No. 1521, dishahihkan oleh al-Albany dalam shahih Abu Dawud)

*2. Sebab Melaksanakan shalat Taubat*
════════════════════
Sebab shalat taubat adalah *jika seorang muslim terjatuh kepada maksiat,* _baik dosa besar ataupun dosa kecil,_ maka seorang muslim wajib bersegera untuk bertaubat, dan dianjurkan untuk shalat taubat 2 raka’at, karena shalat adalah di antara amalan yang paling afdhal, maka *sang pendosa bertawassul* _dengan melaksanakan shalat ini supaya Allah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya._

*3. Waktu shalat taubat*
════════════════════
Dianjurkan bagi seorang muslim yang berazam untuk bertaubat dari dosa yang telah ia perbuat, agar melaksanakan shalat taubat ini, baik taubat itu dilakukan segera setelah melakukan dosa ataupun ditunda. Walaupun tentunya seorang muslim itu harus bersegera di dalam bertaubat. Namun walaupun taubat itu ditunda dan diakhirkan, tetap diterima. *Karena taubat akan senantiasa diterima selama belum terjadi hal-hal berikut:*

*A. Jika nyawa sudah berada di kerongkongan,* karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

*إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ*

_*Sesungguhnya Allah senantiasa menerima taubat seorang hamba selagi nyawanya belum sampai kerongkongan*_ (HR. At-Timidzi, no. 3537, dihasankan oleh al-Albany)

*B. Matahari terbit dari barat,* Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

*مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْه*

_*Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat maka Allah pasti Mengampuninya*_ (HR. Muslim, no. 2703)

*Dan shalat ini boleh dikerjakan sepanjang waktu,* bahkan di Waktu-waktu yang terlarang (seperti setelah shalat Ashar) karena shalat taubat *termasuk shalat yang memiliki sebab*, sehingga disyariatkan ketika ada sebabnya.

*Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:* _”Shalat dzawatul asbab (yang memiliki sebab) akan hilang kesempatannya bila ditunda karena bertepatan dengan waktu terlarang, seperti sujud tilawah, tahiyyatul masjid, shalat gerhana, setelah wudhu, sebagaimana disebutkan dalam hadits Bilal, demikian pula shalat istikharah (boleh dilakukan pada waktu terlarang) bila dengan ditunda akan menyebabkan masalah yang ingin diistikharahkan terlewat. Begitu juga shalat taubat, karena jika seseorang berbuat dosa maka wajib segera bertaubat, dan disunnahkan untuk shalat taubat dua raka’at, kemudian ia memohon ampun, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Bakar (di atas)_ (Majmu Fatawa, 23/215)

*4. Tatacara shalat taubat*
════════════════════
*Shalat taubat terdiri dari 2 raka’at, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Bakar di atas*

*Shalat tersebut dilakukan secara munfarid* (tidak berjama’ah), setelah selesai shalat, maka disunnahkan untuk memohon ampun kepada Allah, berdasarkan kepada hadist Abu Bakar yang telah disebutkan di atas.

*Tidak ada keterangan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang menyebutkan disunnahkan membaca surat tertentu, sehingga orang yang shalat taubat dapat membaca surat apapun yang dia kehendaki.*

Dianjurkan bagi yang bertaubat untuk bersungguh-sungguh melakukan amal kebaikan bersamaan dengan shalat ini, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

*(وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ)*

_*Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.*_
[Surat Tha ha: 82]

Diantara *amal yang paling utama untuk dilakukan oleh orang yang bertaubat adalah shadaqah*, karena shadaqah termasuk sebab yang potensial untuk menghapus dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

*(إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ)*

_*Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.*_ [Surat Al-Baqarah 271]

Terdapat hadist yang shahih dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu, bahwasanya ia berkata ketika Allah mengampuninya:

*يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ مِنْ تَوْبَتِي أَنْ أَنْخَلِعَ مِنْ مَالِي صَدَقَةً إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ. قُلْتُ : فَإِنِّي أُمْسِكُ سَهْمِي الَّذِي بِخَيْبَرَ.*

_*”Wahai Rasulullah, sesungguhnya untuk melaksanakan taubatu aku berkehendak mengeluarkan seluruh hartaku sebagai shadaqah di jalan Allah dan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam”. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Simpanlah sebagian hartamu karena itu lebih baik bagimu”. Aku berkata lagi: “Sesungguhnya aku menyimpan hartaku yaitu bagianku yang ada di tanah Khaibar”.*_ (HR. Al-Bukhari, 2757)

 

(Ditulis oleh Abdur Rosyid)

*DIAGNOSA UCAPAN*

Salah satu sumber musibah yang seringkali tidak disadari adalah Ucapan kita sendiri.

Hingga Nabi pun mengingatkan kita untuk menjaganya.

Dari lisan terlontar kalimat yang kita anggap ringan, tetapi mungkin berat perhitungannya dihadapan Alloh. Kita anggap sepele namun bisa mendatangkan Ridho Alloh. Dan kita anggap kalimat tidak berarti tetapi menyebabkan turunnya Murka Alloh atas diri kita.

Nabi meletakkan jaminan keselamatan diatas keselamatan Lisan. Siapa yang menjaganya maka Nabi menjaminnya akan selamat.

Ada apa dengan lisan ini?

_“Barang siapa mampu menjaga apa yang terdapat antara dua janggut dan apa yang ada di antara dua kaki, maka aku jamin dia masuk surga. ( Muttafaq ‘alaih, dari Sahl bin Sa’ad)_

Terang benderang sabda Nabi diatas. Lisan bisa mengantarkan pada syurga.

Dan sebaliknya, lisan juga bisa menjerumuskan pada neraka.

Lisan adalah *salah satu pintu syetan.*

Mari kita simak ayat ini.
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: *Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik, sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.*” (Al-Isra: 53)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat diatas sebagai berikut :

_Allah Swt. memerintahkan kepada hamba dan Rasul-Nya —Nabi Muhammad Saw.— agar memerintahkan kepada hamba-hamba Allah yang beriman, hendaklah mereka dalam khotbah dan pembicaraannya *mengucapkan kata-kata yang terbaik dan kalimat yang menyenangkan.* Karena sesungguhnya jika mereka tidak melakukan hal mi, tentulah setan akan menimbulkan permusuhan di antara mereka dengan membakar emosi mereka, sehingga terjadilah pertengkaran dan peperangan serta keburukan._
Disinilah syetan bekerja dan memanfaatkannya untuk menghancurkan diri kita.

Hadits Abdullah bin Mas’ud berbunyi: _“Seorang mukmin bukanlah tukang cela dan tukang laknat dan bukanlah orang yang suka berkata keji lagi kotor.”_ (HR Tirmidzi) ; Hadits ini dicantumkan oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab beliau Shahih Jami’ Tirmidzi no 610 dan Silsilah Hadits Shahih no 320
Nah, _dalam ranah terapi ruqyah, apa kaitan antara tema menjaga lisan ini dengan Sakit, musibah dan gangguan?_
_Mari fokus kita amati dari sisi terapi ruqyah._

Nash nash diatas telah menunjukkan dengan tegas salah satu penyebab masalah adalah ketidakmampuan menjaga lisan.

Masalah ini tidak hanya terkait perselisihan, tetapi juga terkait _apa apa yang akan menimpa diri kita di kemudian hari._

Di dalam Silsilah Hadits Shahih tercantum sebuah hadits yang berbunyi: _“Apabila sebuah laknat terucap dari mulut seseorang, maka ia (laknat itu) akan mencari sasarannya. Jika ia tidak menemukan jalan menuju sasarannya, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.”_

Atau
لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالفِسْقِ أَوِ الكُفْرِ ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ ، إنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كذَلِكَ

_“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekufuran, melainkan akan kembali kepadanya tuduhan tersebut jika yang dituduhnya tidak demikian.”_ (HR Bukhari)
الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ

_“Dua orang yang saling mencela, maka *dosa yang dikatakan keduanya akan ditanggung oleh orang yang pertama kali memulai, selama yang terzalimi tidak melampuai batas*.”_ (HR Muslim)

_”Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau *membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya*.”_ (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Penjelasan senada dengan kalimat hadits diatas, disampaikan oleh Ibnul Qayyim _rahimahullah._

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

_“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu.

Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.”_ (Madarijus Salikin, 1: 176)
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, _“Apabila seseorang melihat orang yang terkena musibah, kemudian ia mengucapkan:_

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

_Segala puji bagi Allâh yang menyelamatkan aku dari musibah yang Allâh timpakan kepadamu. Dan Allâh telah memberi keutamaan kepadaku melebihi orang banyak.’_

_Maka musibah itu tidak akan menimpa dia.”_( Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3432) dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahâdîts as-Shahîhah no. 602).

Hadits dan penjelasan diatas menggambarkan bahwa salah satu sumber musibah yang terjadi pada diri kita hari ini adalah _ucapan buruk, merendahkan, dan menghina keburukan orang lain._

*Bagaimana cara diagnosanya jika dibawa dalam ranah terapi??*

Jika saat ini kita susah menjalankan sholat, _coba tengok ke masa lalu, apakah kita pernah mencela, meremehkan (dg ujub dan takabbur) saat melihat orang lain belum sholat?_

Saat ini anak anak kita mungkin sering bikin masalah ? Coba menoleh ke belakang, _mari kita lihat ucapan dan sikap kita pada anak tetangga yang nakal dan susah diatur._ _Apakah saat itu terucap hinaan dam cemoohan?_

Hinaan dengan kesombongan itulah yang membuat kita terjebak di kesalahan dan masalah yang sama.

_Dahulu, mungkin kita pernah mengalami konflik luar biasa, tanpa kita sadari ucapan ucapan laknat, sumpah serapah kita lontarkan pada orang tersebut. Kita tidak tahu bahwa dalam pandangan Alloh, mungkin justru dia yang benar. Maka ucapan laknat dan sumpah serapah itu melesat kembali pada diri kita, hingga muncul dalam bentuk musibah. Sebagaimana yang kita inginkan terjadi pada orang itu, diwaktu itu._

Atau

_Saat kita melihat orang lain tertimpa musibah, kita lupa bersyukur pada Alloh yang telah membuat kita tidak mengalami musibah itu, menjaga hidup kita. Atau bahkan ‘gembira’ saat melihat orang lain terpuruk???_

Maka mungkin dikemudian hari, musibah tersebut pun menghampiri hidup kita.
Jadi, dalam ranah terapi ruqyah, salah satu yang perlu kita telusuri adalah _*sikap hati, dan ucapan kita dimasa lalu.*_

Setelah itu, *mari mentaubatinya, dan doakan semua orang dengan doa doa kebaikan.*
Semoga Alloh angkat semua musibah dalam hidup kita.

In syaa Alloh demikian cara menterapinya.
Wallohua’lam

❤❤ ❤ ❤

💞 ” SEMBUHKAN SAKIT HATIMU, MAKA AKAN SEMBUH SELURUH TUBUHMU.”

💞 Bila kita mempunyai sakit hati yang benar-benar kronis …
Merasa benci banget …
Nggak suka banget …
Kecewa banget …
Dendam banget …
Sedih banget …
Semua ini dianggap serius … sampai sakit hatinya itu berdampak pada tubuh …

💞 Sakit hati itu dibiarkan tidak segera diatasi … maka saat muncul dalam bentuk penyakit kanker … diabet … sakit jantung … barulah diatasi …
Dan yang diatasipun hanya permukaannya saja … penyakitnya saja …

💞 Mengatasinya dengan operasi … obat herbah … bertahun-tahun … bahkan seumur hidup … kemo … radiasi …
Semua itu membuat sel-sel tubuh luluh lantak …

Tapi akar masalahnya tidak diatasi …

💞 Akar masalahnya itu sebenarnya adalah … HATI yang sakit semakin rusak … penyakit hatinya tidak diatasi … sehingga merusak seluruh jaringan tubuh …

💞 Darah tetap dibiarkan asam … kondisi tubuh asam …
Pikiran tetap stress … jiwa tidak tenang …
dendam masih ada …
kecewa masih berlanjut …
perasaan masih nggak enak …
benci masih kuat …

Secara tidak langsung kita membunuh diri sendiri …

Seriuss ini …

💞 Ingat … Radulullah SAW. pernah berkata :

” Ada segumpal daging yang jika ia baik,
maka seluruh tubuh akan baik. Dan kalau
ia buruk, maka seluruh tubuh akan buruk.”

Itulah … HATI …

💞 Seharusnya hati selalu ada dalam kondisi indah dan baik …
Selalu ikhlas menerima ketentuan Allah … bersyukur … tulus berbagi dan bahagia …

💞 Seperti anak kecil yang selalu bahagia dan tertawa …
Seperti itulah kondisi hati seharusnya …
Pada saat hati sudah tak lagi seperti itu … saat itulah penyakit muncul … dan deteksi dini harus dilakukan …

💞 Akar permasalahan harus diatasi …
Hati perlu terus dicuci … dan dibersihkan …
Tanda hati yang bersih dan suci adalah …

* Ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain …
* Selalu semangat untuk berbagi tanpa pamrih
* Selalu ridha dengan segala ketentuan yang
Allah berikan untuk kita …

Termasuk saat kita dimusuhi …? dibenci …?
Nggak masalah … jangan sedih … berarti dosa kita jadi ada yang menanggung …

Atau kita dizalimi …?
Wah … ini saatnya doa-doa tak ada batasnya dengan Sang Pemberi … Pengasih Penyayang
Allah Arrahmaan Arrahiim …

💞 Hati akan selalu bahagia atas kebahagiaan orang lain …
Gembira apapun yang terjadi … siapa pun itu …

Termasuk bahagia bagi mereka yang pernah merugikan kita …
Tapi kita tak perlu merasa rugi … karena semua itu ada hikmahnya ..

Pastikan itu …

💞 Kalau hati dalam keadaan tidak baik … dengan tanda …
Ada rasa sedih … kecewa … benci … dan dendam …
Maka …. segera lakukan …!

* Belajar ikhlas …
Tarik nafas … lalu buang nafas …
Setiap nafas … adalah nafas baru … harapan
baru …

* Jangan pusingkan dengan yang telah
berlalu … dan jangan khawatirkan dengan
yang belum terjadi …

* Terima dan hargai …
Allah Maha Besar dan Maha Tahu …
Allah tahu yang terbaik untuk kita …
Semua pasti baik dan bermanfaat …

* Bersyukur dibalik bencana … menjadi
karunia …
Mungkin kita pernah bertanya … ” Kenapa ya
Allah yang Maha Kasih dan sangat
mengasihiku … memberi sesuatu yang
tidak kusukai dan tidak sesuai dengan
dengan harapanku …?
Apakah kira-kira hikmah dibalik bencana itu?

Rubahlah mindsetnya husnuzon … berbaik
sangkalah kepada Allah …

* Berbagi tanpa pamrih …
Apapun rizki yang ada pasti bisa untuk
berbagi …
Pasti ada pengalaman baru … kesadaran
baru yang bisa dibagikan kepada orang lain …

Bagikan senyum kepada semua …
Maafkan semua orang …
Doakan semua orang yang pernah singgah
di hati kita …

Apa doa yang harus kita panjatkan untuk diri
sendiri dan orang-orang tersebut …?
Apa kira-kira yang bisa kita lakukan dengan
lebih baik lagi …? Untuk mengharap ridha
Allah semata …
Doakan yang terbaik buat mereka …

Bahagia saat orang lain bahagia …termasuk
orang yang awalnya tidak kita sukai … kita
benci … kita anggap merugikan … kita
anggap mengecewakan …

Apalagi terhadap orang yang berjasa kepada
kita … muliakan mereka sebagai wujud rasa
syukur kepada Allah …
Kita bisa tegar seperti sekarang … ada jasa
terbaik mereka di hati kita …

💞 Muliakan saudara kita … teman kita … yang pernah menolong kita … meskipun mereka ada yang membuat kecewa … maafkanlah … muliakan jasanya … Allahlah yang akan membalas segala keikhlasanmu …

💞 Ketika penyakit hati pelan -pelan sembuh … maka begitu juga penyakit tubuh akan hilang dan sembuh …

💞 Marilah selalu menjaga kesehatan HATI …
Hilangkan suuzon dengan teman atau saudara …
Semoga tidak ada lagi rasa benci … atau kecewa di hati kita …
Awali hari dengan Bismillah … dan akhiri dengan Alhamdulillah …
Semoga Allah ridha dengan niat kita untuk selalu membersihkan HATI …

Semoga manfaat dan Barokah …

Praktisi Ruqyah Tangsel