Keutamaan Dzikir

Secara terminologi definisi zikir banyak sekali. Ensiklopedi Nasional Indonesia menjelaskan zikir adalah ingat kepada Allah dengan menghayati kehadiran-Nya, ke-Maha Sucian-Nya, ke-Maha ke-Terpujian-Nya dan ke-Maha Besaran-Nya. Zikir merupakan sikap batin yang bisa diungkapkan melalui ucapan tahlil (La Ilaha illa Allah, artinya tiada Tuhan selain Allah), tasbih (Subhana Allah, artinya Maha Suci Allah), tahmid (Alhamdulillah, artinya segala puji bagi Allah), dan takbir (Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar).

Dalam Shorter Ensiklopedi of Islam, disebutkan zikir dalam hati (bi al-qolb) dan dengan lisan (bi al-lisan) adalah penyebut, di mana keduanya berhubungan, sebagai cara yang khusus, penyembahan kepada Allah dengan bentuk tertentu yang pasti, diajarkan dalam suatu perintah agama, bisa keras bisa dalam hati, dengan pernapasan khusus dan gerakan jasmani.

Sedangkan menurut Aboe Bakar Atjeh, dalam bukunya Pengantar Ilmu Tarekat Uraian tentang Mistik, zikir adalah ucapan yang dilakukan dengan lidah, atau mengingat Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mensucikan Allah dengan memuji dengan puji-pujian dan sanjungan-sanjungan dengan sifat yang sempurna, sifat yang menunjukkan kebesaran dan kemurnian.

Zikir sebagai fungsi intelektual membuat apa yang telah dipelajari, informasi, dan pengalaman sebelumnya, memungkinkan kita untuk memecahkan problem-problem baru yang dihadapi. Zikir sangat membantu kita dalam melangkah maju untuk memperoleh informasi dan menerima realitas baru. Zikir yang dimaksud di sini adalah ”zikir Allah” atau mengingat Allah.

Zikir dalam pengertian mengingat Allah sebaiknya di lakukan setiap saat, baik secara lisan maupun dalam hati. Artinya kegiatan apa pun yang dilakukan oleh seorang Muslim sebaiknya jangan sampai melupakan Allah SWT. Di mana pun seorang Muslim berada, sebaiknya selalu ingat kepada Allah SWT, sehingga akan menimbulkan cinta beramal saleh kepada Allah SWT, serta malu berbuat dosa dan maksiat kepadanya.

Bagi seorang sufi, Syaikh Abu ‘Ali al-Daqaq, zikir merupakan tiang penopang yang sangat kuat atas jalan menuju Allah SWT. Zikir adalah landasan tarekat (thariqah) itu sendiri. Dan tidak seorang pun dapat mencapai Allah SWT, kecuali terus-menerus berzikir kepada Allah.

Teungku Hasbie Ash Shiddiqie dalam bukunya Pedoman Zikir dan Doa, menjelaskan, zikir adalah menyebut Allah dengan membaca tasbih (subhanallah), membaca tahlil (la ilaha illallahu), membaca tahmid (alhamdulillahi), membaca taqdis (quddusun), membaca takbir (allahuakbar), membaca hauqolah (la hawla wala quwwata illa billahi), membaca hasbalah (hasbiyallahu), membaca basmalah (bismillahirrahmanirrahim), membaca Alquran al majid dan membaca doa-doa yang ma’tsur, yaitu doa yang diterima dari Nabi SAW.

Dari pengertian di atas, masih banyak lagi pengertian zikir yang dikemukakan oleh para ulama dan pakar. Namun, pengertian yang menjadi kajian dalam tulisan ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis-hadis Nabi tentang zikir yang mencakup doa, mengucapkan asma al-husna, membaca Alquran, tasbih (menyucikan Allah), tahmid (memuji Allah), takbir (mengagungkan Allah), tahlil (meng-Esakan Allah), istighfar (memohon ampunan kepada Allah), hawqolah (mengakui kelemahan diri).

Bisa dikatakan zikir adalah modal yang dimiliki setiap Muslim yang dapat dipergunakan dan diterapkan kapan pun dan di mana pun, terlebih di bulan Ramadan ini umat Islam dapat memanfaatkan waktu yang dimiliki sebanyak-banyaknya untuk berzikir.

Macam-macam Zikir
Secara umum zikir dibagi menjadi dua macam, yaitu zikir dengan hati dan zikir dengan lisan. Masing-masing dari keduanya terbagi pada dua arti, yaitu zikir dari arti ingat dari yang tadinya lupa dan zikir dalam arti kekal ingatannya

Zikir dengan lisan berarti menyebut nama Allah, berulang-ulang kali, sifat-sifat-Nya berulang-ulang kali pula atau pujian-pujian kepada-Nya. Untuk dapat kekal dan senantiasa melakukannya, hendaknya dibiasakan atau dilaksanakan berkali-kali atau berulang-ulang kali. Zikir kepada Allah dengan hati ialah menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah di dalam diri dan jiwanya sendiri sehingga mendarah daging.

Kerja sama antara lisan (lidah) dan qalb (hati) dalam hal zikir sangatlah baik, sebab bila mana seseorang telah mengamalkan dan melakukan dengan disiplin, dengan sendirinya akan meningkat menjadi zikir a’dha’a. Artinya seluruh badannya akan terpelihara dari berbuat maksiat kepada Allah. Bagi seseorang yang hatinya telah bening dan jernih akan dapat mengontrol anggota badannya untuk tetap disiplin, ucapannya akan sesuai dengan perbuatannya, lahiriahnya akan sesuai dengan batiniahnya.

Imam Nawawi berkata,”Zikir dilakukan dengan lisan dan hati secara bersama-sama. Kalau hanya salah satu saja yang berzikir, maka zikir hati lebih utama. Seseorang tidak boleh meninggalkan zikir lisan hanya karena takut riya. Berzikirlah dengan keduanya dan niatkan hanya mencari rida Allah semata. Suatu hari saya mengunjungi Al-Fadhil untuk menanyakan orang yang meninggalkan amal perbuatan karena takut riya di hadapan manusia. Beliau menjawab,’kalau seseorang menyempatkan diri memperhatikan tanggapan orang lain padanya, berhati-hati atas persangkaan jelek mereka, maka pintu-pintu kebaikan tidak terbuka lebar untuknya. Ia telah menghilangkan bagian agama yang sangat vital. Ini bukan jalan yang ditempuh orang-orang bijak’.”

DZIKIR UNTUK PENYEMBUHAN

Bila otak kita direkam saat ekstase gelombangnya adalah gelombang Theta dengan frekuensi rendah sekitar 4 – 7 Hz, getaran medan energinya besar, terjadi saat antara terjaga dan tidur. Pada saat tidur gelombangnya adalah Delta, frekuensinya antara 0 – 3 Hz, getaran medan energinya rendah.
Dari segi medis ujung lidah yang menempel pada langit-langit akan merangsang ujung sarap di daerah dasar tenggkorak ( sela tursika ). Rangsangan tersebut akan merangsang kelenjar-kelenjar hormonal Hypofisis, Hypothalamus, Thalamus dan Pineal yang berada di atasnya untuk bersekresi. HGH ( Hormon pertumbuhan ) akan meningkat, sehingga tampak wajah mereka menjadi lebih segar, lebih bercahaya. Daya kekebalan tubuh dan sel T ( sel anti kanker ) juga akan meningkat. Dari kelenjar Pineal akan keluar Endomorphin dan Melatonin yang mengakibatkan terjadinya relaksasi yang dalam dan terjadinya Ektase.
Dengan menempelkan ujung lidah ke langit-langit berarti seolah-olah kita menyebut Asma Allah secara berkesinambungan tanpa terputus. Selain itu, dengan ujung lidah tersebut kita mengukir Asma Allah pada langit-langit, sehingga bila saatnya tiba dimana kita tidak sanggup lagi mengucapkan Asma Allah, maka cukup dengan menempelkan ujung lidah kita pada ukiran tersebut berarti kita eling, ingat kepada Allah dan bila kemudian kita meninggal, kita meninggal dalam keadaan muslim. Meninggal dalam keadaan berserah diri kepada Allah.

Mulailah dengan hembusan keluarkan nafas wajar, alami, normal, santai, senyum dan pasrah tanpa beban apapun. Ulangi cara pernafasan tersebut 15-30 menit, tergantung keinginan kita, sambil merasakan semua otot-otot dari mulai ujung kaki sampai seluruh tubuh, menjadi rileks, kemudian rasakan pikiran kitapun menjadi rileks, selanjutnya kita rasakan seluruh tubuh dan pikiran menjadi rileks. Jangan mengingat apa-apa lagi selain mengingat Allah dengan mengucapkan istighfar.
Ucapkan dalam hati Astagfirullah dengan cara sebagai berikut :
Selanjutnya pernafasan tetap seperti biasa diatur dengan tenang, setiap menarik dan mengeluarkan nafas, di dalam hati hanya mengucapkan Astagfirullah… berulang-ulang tanpa batas hitungan. Yang diperhatikan hanya keluar hembusannya nafas dan Asma Allah agar pikiran kita tidak mengembara kemana-mana dan jangan sampai kosong tetap fokus ke uluhati.

Dzikir dengan cara seperti di atas dilakukan tanpa batas hitungan, sebagai patokan awal lakukanlah secara bertahap selama 10 menit, kemudian 20 menit sampai 30 menit, bahkan sampai 60 menit, semampu dan seikhlas kita. Karena yang dinilai bukan sekedar jumlah dan lamanya akan tetapi keikhlasan mengerjakannya,