KONSEP KECERDASAN INTELEKTUAL MENURUT ISLAM

Kecerdasan intelektual merupakan konsep yang sangat penting dibahas dan perlu diterapkan dalam sistem pendidikan Islam.

Oleh karena itu, perumusan konsep dan strategi penerapannya mesti dilakukan dalam sistem pendidikan Islam guna menumbuhkan kecerdasan intelektual anak didik. Proses pertumbuhan kecerdasan intelektual menurut pendidikan Islam adalah ditandai dengan adanya pendidikan akhlak. Pendidikan Islam di samping berupaya membina kecerdasan intelektual, juga membina kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Pendidikan Islam membina dan meluruskan hati terlebih dahulu dari penyakit-penyakit hati dan mengisi dengan akhlak yang terpuji, seperti ikhlas, jujur, kasih sayang, tolong-menolong, bersahabat, silaturahmi dan lain-lain. Ajaran akhlak yang demikian inilah yang menjadi titik berat dalam proses pendidikan Islam.
Manusia dibekali Allah SWT intelektual yang cerdas. Di antaranya daya ingat yang tajam, sistematika dalam berpikir dan merumuskan persoalan, menyikapi persoalan secara simpel dan lain sebagainya, seperti kemampuan umat Islam menghafal Al Qur’an dan Hadits serta rumusan berpikir dalam ilmu mantiq. Keistimewaan ini karena kasih sayang Allah SWT pada orang-orang mukmin. Keimanan yang bersemayam dalam dada mukmin menghantarkan mereka memiliki kecerdasan intelektual. Rasul SAW memberikan indikator orang yang cerdas intelektualnya adalah Konsentrasi pada satu titik yang jelas, berpikir cerdas sehingga tidak mudah tertipu dan selalu dalam keadaan siap siaga. Kecerdasan intelektual juga akan memberikan jalan keluar ketika menghadapi kondisi sulit. Bentuknya dapat berupa alternatif pemecahan yang beragam dan melalui cara yang ringan dan lain sebagainya….
Abu Bakar pun pernah mengalami hal yang sama ketika menyertai perjalanan hijrah Rasulullah SAW ke Madinah. Di pertengahan perjalanan Abu Bakar berjumpa dengan peserta sayembara pembunuhan terhadap Rasulullah SAW. Abu Bakar ditanya: “Siapakah orang yang berada di depanmu itu?”. Abu Bakar menjawab: “Huwal Hadi (dia petunjuk jalanku).” Petunjuk jalan yang dimaksud Abu Bakar adalah yang menunjuki jalan dari jalan kegelapan jahiliyah kepada jalan terang benderang, yaitu Islam. Sedangkan orang itu mengira orang yang di depan Abu Bakar adalah guiding perjalanan.
Pentingnya mendayagunaan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan merenung. Redaksi al-Qur’an dan al-Hadis tentang berfikir atau mempergunakan akal cukup variatif. Ada yang dalam bentuk khabariah, insyaiyah, istifham inkary. Semuanya itu menunjukkan betapa Islam sangat concern terhadap kecerdasan intelektual manusia. Dan kecerdasan intelektual itu berarti pemahaman terhadap ilmu pengetahuan.
العلم قبل القول والعمل, لقول الله تعالى”فاعلم أنه لا إله إلا الله: فبدأ بالعلم وأن العلماء هم ورثة الإنبياء ورثوا العلم من أخذه بحظ وافر ومن سلك طريقا يطلب به علما سهل الله له طريقا إلى الجنة
“Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan,sesuai dengan perkataan Allah (ketahuilah tiada Tuhan selain Allah) Ia memulainya dengan Ilmu sesungghunya ulama adalah pewaris para nabi, mereka mewarisi ilmu dengan sangat lengkap, barang siapa yang menempuh jalan (proses belajar dan mengajar) untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [1].
من يريد الله به خيرا يفهِّمه ,وإنما العلم بالتعلَم
“Barang siapa yang akan diberikan kebaikan oleh Allah maka ia akan diberikan pemahaman, cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan belajar.”[2]
لا حسدَ إلا في اثنتين رجل آتاه الله مالا فسلّط على هلكته في الحق ورجل آتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلّمها
“Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, seorang yang diberikan Allah kepadanya harta dan ia menggunakannya untuk menegakkan kebenaran, dan seseorang yang diberikan Allah kepadanya hikmah (ilmu pengetahuan yang luas) dan ia menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupannya dan mengajarkannya kepada orang lain.”[3]
من أشراط الساعة أن يُرفَع العلم ويثبت الجهل ويشرب الخمر ويظهر الزنا
”Tanda-tanda hari Kiamat diangkatnya ilmu, dan kebodohan bersemayam, khamar menyebar dan diminum begitu pula perbuatan zina.”[4]

Menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia menganggurkan anugerah akal yang dimilikinya. Mempunyai mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan. Mempunyai perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, atau mempunyai telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan. Kondisi ini yang tidak dianjurkan oleh Islam terhadap umatnya. Justru Islam memerintahkan manusia untuk menghargai akalnya. Salah satunya dengan menggunakan akal dalam mengimani keberadaan al-Khalik, tidak dibangun atas dasar taklid (asal mengikuti saja). Karena pentingnya aktivitas berfikir, para shahabat sampai mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata : “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir.” (Ad-Durrul Mantsur, Jilid II, Hlm. 409). Hal ini mendorong kaum muslimin untuk mempelajari, memahami, dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang mereka tuntut. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian sudah seharusnya kecerdasan intelektual dimiliki oleh setiap muslim.

Kecerdasan intelektual memunculkan rumusan yang aplikatif untuk mewujudkan sebuah obsesi. Karenanya peran kecerdasan intelektual sangat berarti terhadap pencapaian obsesi. Untuk mengukur kecerdasan seseorang, biasanya pihak sekolah, militer, atau tempat kerja pakai hasil karya Alfred Binet (1857-1911) yang kita kenal dengan istilah IQ alias Intelegencia Quotient (Kecerdasan Intelektual). Tingkat kecerdasan seseorang dinilai berdasarkan skor yang diperolehnya dari jawaban atas soal-soal seputar nalar dan logika untuk mengetes kemampuan intelektualnya. Akan tetapi, para ahli merasa terlalu sederhana ngukur kecerdasan hanya didasarkan pada nalar, matematika, dan logika yang diterjemahkan dalam nilai IQ. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa merumuskan standar baru untuk menilai kecerdasan seseorang. Maka lahirlah istilah EQ dan SQ yang bersahabat erat dengan IQ.
Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa konstribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional. Jelasnya, kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, maka EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya mensinergikan intelektualnya dengan perasaannya yang manusiawi. Kecerdasan Emosional boleh dibilang kembaran dengan pembinaan nafsiyah (pola sikap) yang diajarkan Rasulullah SAW. Untuk melembutkan perasaan, beliau mengajarkan kita sikap rendah hati, pemalu, atau qonaah. Agar kita nggak merasa angkuh ketika diberi kelebihan atau minder ketika kekurangan. Dalam bersosialisasi, beliau mencontohkan sikap empati, simpati, saling menolong, saling menasihati, saling mengingatkan, atau saling memaafkan dalam rangka menjalin persaudaraan. Sehingga kita tidak mudah melecehkan orang lain karena perbedaaan status ekonomi, pendidikan, atau sosial. Tingginya EQ bagi seorang muslim berarti memiliki akhlak mulia.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Lain tidak, karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat. Di samping itu, kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik . Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin “hablun min al-naas”[5]. Pusat dari EQ adalah “qalbu” . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.

Dan terakhir, kecerdasan spiritual (SQ) berarti kesadaran akan pengawasan Allah SWT dan malaikat Raqib-Atid. Kesadaran ini tidak hanya sebuah wacana. Melainkan sebuah kekuatan yang memotivasinya untuk beramal dan melebihi motivasi yang dilahirkan dari materi, harta, popularitas, gengsi, atau kepintaran.

Danah Zohar, penggagas istilah teknis SQ (Kecerdasan Spiritual) menuturkan kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ ( spiritual quotient ) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall : SQ the ultimate intelligence : 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber–SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa atau masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Jelasnya, orang yang ber-SQ tinggi adalah bahwa orang itu berakhlak mulia. Dalam berbagai catatan sejarah kehidupan Rasulullah SAW bahwa beliau memiliki akhlak yang mulia, seperti shiddiq (selalu berkata benar), amanah (selalu memelihara dan melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya secara benar), tabligh (selalu menyampaikan ajaran Tuhan kepada umatnya tanpa ada yang disimpan dan disembunyikan sedikitpun), dan fathanah (selalu memiliki kepekaan dan kecerdasan dalam memecahkan masalah yang ada di sekitarnya).[6]
Kenyataan Rasulullah SAW sebagai orang yang berakhlak mulia itu diakui oleh Allah sendiri dalam Firman-Nya : “Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (mulia).” (Q.S. al-Qalam, 68:4).
Keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, sangat dianjurkan oleh lslam. Hati yang bersih dan tidak tercemar lah yang dapat memancarkan IQ dan EQ dengan baik. Di antara hal yang merusak hati dan memperlemah daya kerjanya adalah dosa. Oleh karena itu ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW banyak bicara tentang kesucian hati. Sekedar untuk menunjuk contoh dapat dikemukakan ayat-ayat dan hadis berikut :

Firman-Nya dalam al-A’raf 179 menyatakan bahwa orang yang hatinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya disebabkan kotor disamakan dengan binatang, malahan lebih hina lagi. “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

Firman-Nya dalam al-Hajj 46 menegaskan bahwa orang yang tidak mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya di muka bumi, adalah orang yang buta hatinya. “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

Firman-Nya dalam al-Baqarah 74 menegaskan bahwa orang yang hatinya tidak disinari dengan petunjuk Allah SWT diumpamakan lebih keras dari batu. “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Firman-Nya dalam Fushshilat 5 menyatakan adanya pengakuan dari orang yang tidak mengindahkan petunjuk agama bahwa hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat. “Mereka berkata: “Hati Kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru Kami kepadanya dan telinga Kami ada sumbatan dan antara Kami dan kamu ada dinding, Maka Bekerjalah kamu; Sesungguhnya Kami bekerja (pula).”

Hadis Rasulullah SAW menyatakan bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik baiklah seluruh tubuh , dan bila ia rusak , rusak pulalah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Hadis Rasulullah SAW menyatakan bahwa bila manusia berbuat dosa tumbuhlah bintik-bintik hitam di hatinya. Bila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah bintik-bintik hitam tersebut, yang kadang kala sampai menutup seluruh hatinya.

Mengacu kepada ayat dan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa EQ berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan . Apabila petunjuk agama dijadikan panduan kehidupan, maka akan berdampak positif terhadap kecerdasan emosional . Begitu pula sebaliknya. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas. SQ adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat .
Kalau EQ berpusat di hati, maka SQ berpusat pada “hati nurani” (Fuad/dhamir). Kebenaran suara fuad tidak perlu diragukan. Sejak awal kejadiannya, “fuad” telah tunduk kepada perjanjian ketuhanan ” Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan kami ), kami bersaksi” (al-A’raaf,7:172). Di samping itu, secara eksplisit Allah SWT menyatakan bahwa penciptaan Fuad atau al-Af’idah selaku komponen utama manusia terjadi pada saat manusia masih dalam rahim ibunya (al-Sajadah, 32:9). Tentunya ada makna yang tersirat di balik informasi Allah tentang saat penciptaan fuad (hati) karena Sang Pencipta tidak memberikan informasi yang sama tentang waktu penciptaan akal dan qalbu. Isyarat yang dapat ditangkap dari perbedaan tersebut adalah bahwa kebenaran suara fuad jauh melampaui kebenaran suara akal dan qalbu.
Agar SQ dapat bekerja optimal, maka “Fuad” harus sesering mungkin diaktifkan. Manusia dipanggil untuk setiap saat berkomunikasi dengan fuad-nya Untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tanya dulu pendapat fuad/dhamir. Dengan cara demikian maka daya kerja SQ akan optimal, sehingga dapat memandu pola hidup seseorang. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dengan sabda beliau “sal dhamiruka” (tanya hati nuranimu). Fuad (hati) ibarat battery, yang kalau jarang dipakai maka daya kerjanya akan lemah, malah mungkin tidak dapat bekerja sama sekali. Dalam kaitan inilah, agama menyeru manusia agar mengagungkan Allah, membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa. (al-Mudatstir, 74:1-5) Semuanya itu diperintahkan dalam kerangka optimalisasi daya kerja fuad atau mempertinggi SQ seseorang.

Mengacu kepada paparan di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap SQ. Tinggal lagi bagaimana manusia memelihara SQ-nya agar dapat berfungsi optimal. Sebagai perbandingan ada baiknya penulis mengambil contoh berikut : “Apabila kita lupa sesuatu , bukan berarti hal yang terlupakan itu telah hilang dari tempat penyimpanannya, melainkan karena sistem untuk mengakses ke tempat penyimpanan memori tersebut sudah lemah. Akses ke tempat penyimpanan akan kembali kuat bila sering dipergunakan. Begitu pula sebaliknya. Demikian juga halnya dengan SQ, kalau sistem untuk mengaksesnya sering dipergunakan, maka daya kerjanya akan optimal. Allah SWT menjamin kebenaran SQ , karena ia merupakan pancaran sinar Ilahiyah. (al-Najmu, 53:11). Penegasan al-Qur’an ini menunjukkan bahwa SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi.

Perpaduan ISQ dan ESQ pada masa kejayaan Islam, turut mendorong ilmuwan muslim untuk menghasilkan karya ilmiah yang tercatat dalam tinta emas perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku master piece-nya berjudul “Muqaddimah” (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara. Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata ‘mencerna’ penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan. Ibnu Khaldun dan Ibnu Haitham adalah dua dari sekian banyak ilmuwan Islam yang layak kita teladani. Kegigihan mereka menuntut ilmu dan ketekunan mereka berkarya, mencerminkan tingginya motivasi ruhiyah yang tergabung dalam intelektual dan emosional mereka.

Perintah Rasulullah Untuk Memikirkan Segala Ciptaan Allah


Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan ke-Maha Kuasaan Sang Pencipta (Allah SWT). Dari pemahaman inilah tumbuhnya Tauhid yang murni. “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal” hendaknya dimaknai dalam konteks ini. Sekedar contoh mari dilihat ayat-ayat berikut :

Firman-Nya dalam al-Baqarah ayat 164 mendorong manusia untuk memikirkan kejadian langit dan bumi, pergantian malam dengan siang, dan betapa air hujan mengubah tanah yang tandus menjadi hijau kembali. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Firman-Nya dalam ar-Ra’d ayat 4 mengajak manusia untuk merenungkan betapa variatifnya bentuk, rasa dan warna tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, padahal berasal dari tanah yang sama. “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”
Firman-Nya dalam an-Nahl 12 mengimbau orang yang berfikir untuk memikirkan pergantian malam dengan siang dan perjalanan planet-planet yang kesemuanya itu bergerak dengan aturan Allah. “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya).”

Firman-Nya dalam ar-Rum 24 mengajak manusia untuk memikirkan proses turunnya hujan dan manfaat air hujan bagi kehidupan di muka bumi. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”

Teori “Big Bang” disebut al-Qur’an dalam al-Anbiyaa’: 30 yang berbunyi: “Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?.” dan teori “Nebula” (1 C’ : milyar galaksi) dalam ar-Rahman :38, yaitu : “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?.” serta “thawaf” alam semesta dalam al-Isra:44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” kemudian “Black Hole” dengan gravitasinya yang sangat kuat, menjangkar dan menarik seluruh planet agar tetap pada orbitnya , dalam Yasin 38-40, dan sebagainya sebagai bahan renungan bagi manusia yang telah diberi akal oleh Allah SWT. “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua, (Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung). Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
Cara-cara Rasulullah Dalam Membina Kecerdasan Intelektual
Manusia itu mengalami perkembangan, baik tubuh maupun kemampuan berpikirnya (kecerdasan intelektualnya). Akal manusia berkembang dari tidak bisanya ia menalar menjadi bias ketika dewasa. Oleh karena itu, kecerdasan akal seseorang itu bisa dipersiapkan dan dikembangkan. Kita harus melakukan pembinaan padanya sejak kecil. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa akal manusia itu mengalami perkembangan dari tidak sempurna menjadi sempurna. “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

Menurut para ahli, otak manusia atau kecerdasan intelektualitas itu bisa diperbaiki, begitu pula dengan kecerdasan emosi dan spiritual, bisa dibenahi hingga tua sekalipun. Karena memang kemampuan akal dan potensi itu berkembang akibat pergaulan.[7]

Pernah Imam Syafi’i ditanya: “Apakah kemampuan akal itu merupakan potensi yang dibawa sejak lahir?” Jawabnya: “Tidak, tapi akal itu adalah hasil dari pergaulan dengan banyak orang dan berdiskusi dengan mereka.”
Mengenai hal itu, Ibnu Sina pernah menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan pada anaknya teman bermain dengan perkataannya: “Hendaklah ada bersama anak-anak di mejanya anak-anak lain yang baik adabnya dan diridhai adapt kebiasaannya, karena anak dengan anak itu saling mengerti, mengambil dan mengasihi.”Di lain kesempatan, Imam Syafi’i pernah menganjurkan kepada barang siapa yang ingin akalnya menjadi jenius agar belajar matematika dengan perkataannya: “Siapa yang mempelajari matematika maka jeniuslah akalnya.”[8]

Otak manusia tidak pernah berhenti tumbuh. Sepanjang usia manusia, sejauh ia mengisi otaknya dengan informasi-informasi baru, maka otaknya tidak akan aus dan rusak.[9]Dan, ini senada dengan hadits Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Nawadirnya: “Gerak, gairah dan kekuatan berkumpul anak bersama teman-temannya yang lain pada masa kecilnya akan memberikan tambahan pada akalnya ketika dewasa.”

Oleh karena itu, jika kita menginginkan akal itu bisa berkembang dengan baik, kita harus menyediakan media yang baik yang mendukung perkembangan akal itu sendiri. Media itu misalnya makanan, lingkungan dan ajaran agama.

Selanjutnya, ada beberapa cara Rasulullah SAW dalam membina dan memperbaiki serta menyempurnakan akal seseorang, yaitu :

Perintah menyusui anak selama dua tahun. Manakala penyusuan itu dilakukan dengan sempurna, maka akan mempunyai pengaruh pengaruh yang lebih baik, lebih layak, dan lebih mapan bagi pertumbuhan sang bayi,[10] sebagaimana fiman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 233: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi merupakan suatu pendekatan indirect (pendekatan tidak langsung) dalam upaya mendorong kecerdasan akal. Karena ASI mempunyai pengaruh luar biasa dalam menumbuhkan sel-sel kecerdasan intelektual.

Larangan menikah dengan orang-orang yang terlalu dekat hubungan kekerabatannya.
Memakan makanan yang halal dan bergizi. Allah SWT memerintahkan kepada seluruh manusia agar mengonsumsi makanan yang halal lagi baik (halalan thayyiban). Seperti firman-Nya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 168). “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S.Al-Baqarah: 172). Seseorang pernah memberi nasehat yang baik: “Barangsiapa meninggalkan haram untuk makan yang halal, maka jernihlah pikirannya.”[11] Berkaitan dengan itu, Rasulullah SAW bersabda: “Semua jasad (tubuh) yang tumbuh dari penghasilan yang haram, maka nerakalah yang lebih cocok untuknya.” (H.R. Tirmidzi). Makanan halalan thayyiban inilah yang senantiasa dikonsumsi oleh para utusan-Nya, maka wajar jika mereka adalah orang-orang yang pikirannya jernih sehingga bisa berpikir secara sehat.

Larangan mabuk-mabukkan dan berjudi. Karena keduanya merusak akl. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 90-91: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
Larangan berzina, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan Dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Larangan bertaklid. Allah SWT befirman : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S. al-Isrâ [17] : 36).
[1] Al Bukhari al-Ja’fi, Al-Bukhari, bi Hasyiati Sanadi, (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), Jilid I, hal 24 Bab Ilmu

[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Daniel Goleman, Working with Emotional Intelligence, (New York : Bantam Books, 1999) hal 18

[6] Abuddin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Hadis, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005),h.28
[7] Mas Udik Abdullah, Op.cit., h.49

[8] Ibnu Hajar Asqalani, Op.cit.,h.99

[9] Ibid, h.21

[10] ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni, Membina Rumah Tangga Bahagia,Terj.Bahrun Abu Bakar Ihsan Zubaidi, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007), h.169

[11] Ibnu Hajar Asqalani, Op.Cit., h.20

  1. Ma’mun Zahrudindi19.26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *